Sabtu, 15 Oktober 2011
@ 3 x 2.5 room
Seperti biasa…tidak ada yang istimewa malam hari ini. Hanya duduk sendiri dalam ruangan yang tidak terlalu besar dengan alunan beberapa lagu dari laptop. Seperti biasa pula…aku merasakan kesepian dan kerinduan akan kasih sayang seseorang. Aku merasa…seiring berjalannya waktu…orang-orang yang menyayangiku terus menghilang, meninggalkan aku. Minggu lalu aku kehilangan nenekku, tidak lama sebelumnya aku kehilangan kakek yang sangat aku sayangi, dan kemarin aku kehilangan pak dhe yang sangat menyayangiku. “gugur satu tumbuh seribu”…mungkin ungkapan ini tidak tidak berlaku bagi kehidupanku…meskipun telah banyak orang-orang yang menyayangiku meninggal, pengganti mereka tidak pernah aku dapatkan. Apakah tuhan telah memberiku jalan kehidupan yang keras ini…mengapa aku berbeda dengan teman-temanku…apakah tuhan terus melatihku untuk selalu tabah, dan sabar dari kehidupan ini.
Aku ingin…aku sangat ingin…seperti yang aku lihat ke teman-teman atau orang-orang disekelilingku…dapat terus merasakan kasih sayang orang lain…kasih sayang dari orang tua, kasih saying dari keluarga, teman hingga teman spesial. Tapi aku…mungkin aku hanyalah sebuah boneka jerami yang biasa digunakan sebagai pelarian orang-orang yang sedang bersedih. Setelah kesedihannya selesai maka selesai juga hubungannya denganku. Aku tidak ingin mengatakan ini “habis manis sepah dibuang” karena meskipun demikian, aku tetap mau menerima mereka kembali beserta kesedihan-kesedihannya yang selalu mereka ceritakan padaku.. aku selalu berusaha, selalu ada untuk mereka meskipun sering kali mereka tidak pernah ada disaat aku sedang membutuhkan mereka.
Terlalu naif.. mungkin benar, karena seseorang pernah mengatakan aku demikian. Terlalu baik…mungkin juga benar, karena banyak orang yang mengatakan seperti ini. Aku sudah pernah mencoba menjadi arogan atau egois…tapi mereka juga menyalahkan aku…lantas apa yang harus kulakukan..
Kakek…nenek…pak dhe…aku merindukan kalian…suatu hari nanti..aku ingin bertemu kalian kembali
Misss You
-Ian-
Rabu, 29 Desember 2010
GERBONG MAUT PEMERINTAH
Rabu, 29 Desember 2010, 10:00 wib
Ini pertama kalinya saya menuju Surabaya menggunakan kereta api kelas ekonomi. Sebuah pilihan dengan penuh keberanian karena sebelumnya saya selalu menggunakan bus kota. Dengan membeli karcis seharga Rp 4.000,- kita sudah bisa menuju Surabaya. Sebuah kejanggalan saya temui saat melihat karcis yang saya beli, di karcis tertulis “nama kereta : KA.TUMAPEL”. Namun, kereta yang sebenarnya saya naiki adalah “KA.PENATARAN”. Meskipun demikian kereta datang tepat waktu yaitu 10:00 wib serta harga karcis sesuai dengan yan tertera pada karcis dan info di internet.
Sungguh pemandangan yang sangat memprihatinkan apabila melihat kondisi jasa angkutan yang disediakan oleh pemerintah ini. Lokomotif dan gerbong tua nampak butut dengan kerusakan dimana-mana. Jika kita melihat dari luar, kita akan melihat badan kereta yang kotor tertutup debu dan beberapa jendela yang retak akibat lemparan batu suporter bola. Setelah masuk ke dalam salah satu gerbong, ternyata pemandangan di luar tidak jauh berbeda dengan pemandangan di dalam. Hampir setiap kursi mengalami kerusakan tersendiri. Coretan-coretan penumpang tidak bertanggung jawab memenuhi dinding gerbong dan sampah-sampah makanan berserakan dilantai. Jumlah kursi yang tersedia di seluruh gerbong ternyata tidak dapat mencukupi jumlah penumpang yang ada. Beberapa penumpang terpaksa harus berdiri atau jongkok di lantai gerbong. Sehingga, suasana dalam gerbong terasa sesak dan penuh. Sesekali terlihat penjual asongan yang hilir mudik berjalan melewati sela-sela penumpang menawarkan barang dagangannya.Tidak perduli laki-laki atau perempuan bahkan anak-anak dan orang tua harus merasakan suasana ketidak nyamanan ini.
Ditengah-tengah kepadatan penumpang nampak seorang nenek-nenek yang berdiri terjepit penumpang lainya. Raut muka yang memprihatinkan membuat salah satu penumpang menyelakan sedikit tempat duduknya untuk nenek itu. Meskipun ia telah mendapat tempat duduk walau sedikit, raut mukanya masih tidak berubah. Keringat bercucuran diwajahnya dan sesekali ia usap dengan lengan bajunya. Suasana gerbong ternyata membuat ia kepanasan hingga nafasnya terengah-engah tidak mendapatkan udara segar.
Kereta akhirnya tiba di stasiun Tanggulangin. Berbeda dengan di stasiun lainnya, kereta berhenti sangat lama kira-kira 30 menit. Selama berhenti, tidak ada informasi dari petugas kereta, meskipun kondektur dan petugas keamanan berlalu lalang didalam gerbong memeriksa karcis penumpang. Berhentinya kereta membuat hawa di gerbong semakin panas hingga suara tangisan bayi dan anak-anak memecah suasana gerbong. Tangisan anak-anak saling bersambut dengan keringat yang deras membanjiri tubuh mungilnya. Ibunya nampak kewalahan berusaha menenangkan anaknya dengan sebotol susu dan kipasan-kipasan kecil dari selendang yang ia bawa. Orang-orang disekitar mencoba membantu menenangkan anak ibu itu dengan belaian lembut.
Terdengar kabar samar dari penumpang lain bahwa kereta mengalami gangguan mesin. Kabar ini disambut kekecewaan dengan penumpang disebelahku. Menurut pengalaman yang ia ceritakan padaku, kereta ekonomi memang sering mengalami gangguan mesin seperti ini sehingga memaksa penumpangnya untuk bersabar hingga kerusakan dapat diatasi, berapapun lamanya.
**********************************************************************
Fenomena yang saya alami ini membuat saya mengatakan bahwa “pemerintah itu kejam”. Pelindung masyarakat mana yang rela membiarkan masyarakatnya sengsara akibat fasilitas umum yang ia sediakan. Masih ingat dalam pikiranku bahwa pemerintah selalu menganjurkan masyarakat untuk menggunakan transportasi massal guna mengurangi kemacetan dan polusi. Akhirnya saya mengetahui, kenapa masyarakat tetap memilih dan menggunakan kendaraan pribadi. Transportasi yang disediakan pemerintah selama ini memang tidak memenuhi syarat minimum transportasi massal. Anehnya, pemerintah selalu menuding masyarakat yang kurang berpartisipasi atas progam pemerintah. Penyediaan transportasi berlandas teori pilihan publik menjadi tameng para pejabat pemerintah dari pengaduan masyarakat mengenai fasilitas yang ada. Teori pilihan publik menyatakan bahwa pemerintah harus bekerjasama dengan swasta untuk dapat menyediakan bermacam-macam produk sesuai dengan daya jangkau atau kemampuan masyarakatnya sehingga tercipta persaingan sehat yan dapat memunculkan efisien dan efektifitas. Sehingga dalam bidang transportasi kereta PT.KAI sebagai pengelola jasa layanan kereta memunculkan kelas ekonomi, bisnis dan eksekutif. Sesuai dengan nama kelasnya, kelas eksekutif memiliki fasilitas yang sangat bagus namun, harganya hanya dapat dijangkau masyarakat dengan tingkat ekonomi atas. Sebaliknya dengan kelas ekonomi sebagai kelas terbawah dari kelas yang ada, fasilitas yang diberikan sangat minim hingga kurang dari standart minimal transportasi massal namun harganya dapat dijangkau hampir seluruh masyaraat Indonesia. Kebijakan yang dibuat ini menjadi tidak rasional dan tampak kapitalis karena ternyata pemerintah memihak pada orang yang memiliki modal. Inilah alasan mengapa saya mengatakan bahwa pemerintah itu kejam.
Dalam teori pelayanan publik dikatakan bahwa pelayanan publik yang dilakkan oleh pemerintah harus, profesional, sederhana, efektif, transparan, terbuka, tepat waktu, resonsif dan adaptif serta dapat meningkatkan kualitas manusia (Effendi dalam Widodo:2001). Dalam UU no.25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik juga telah menegaskan bahwa penyelenggaraan pelayanan publik harus bertanggung jawab, transparansi dan efektif . Namun kejadian gangguan mesin saat di stasiun Tanggulangin sama sekali tidak mencerminkan pelayanan yang transparan. Kondektur dan petugas pengaman terus menjalankan tugasnya untuk memeriksa karcis dengan raut muka yang kurang ramah. Pelayanan di kereta ekonomi juga tidak bertanggung jawab karena telah membiarkan anak-anak dan nenek-nenek tersiksa akan suasana sesak dan panas. Sebuah tanggung jawab pelayanan yang baik tidak hanya menyangkut kenyamanan penumpang melainkan juga keamanan penumpang. Meskipun petugas keamanan ada dan ikut dalam perjalanan, namun masih belum memberi rasa aman pada penumpang akan bahaya copet.
Tanpa sadar, pelayanan yang diberikan ini mempengaruhi psikologis seseorang. Pertama adalah membentuk sikap egois pada para penumpang. Dikarenakan, mereka berebut kenyamanan dengan penumpang lain. Tradisi mengalah pada orang tua dan anak-anak hampir tidak nampak lagi dalam situasi ini meskipun ada beberapa orang yang masih memiliki rasa kepedulian. Kedua, memunculkan rasa emosi yang besar. Suasana panas bercampur dengan kepribadian orang yang bermacam-macam memperbesar gesekan emosional seseorang. Sehingga, tidak jarang ditemui orang-orang yang jengkel terhadap ulah orang lain. Ketiga, memunculkan jiwa konsumerisme. Dampak psikologis ketiga ini juga dapat menjadi keuntungan bagi pedagang asongan. Pelayanan yang jauh dari standart minimal ini dimanfaatkan pedagang sebagai sebuah peluang. Suasana yang sesak dan panas akan sedikit diredam dengan minuman dingin dan kipas yang ditawarkan pedagang. Kejenuhan anak-anak akan lamanya perjalanan dan pemberhentian dapat diredam oleh penjual mainan. Dalam pengamatan, hampir setiap penumpang membeli dagangan yang ditawarkan pedagang asongan tersebut. Beberapa orang sampai membeli berulang-ulang demi mencapai kenyamanan perjalanan.
Saya kembali terlintas mempertanyakan “kemana perginya pajak? hingga kereta kelas ekonomi tidak terjamah”, selama ini pajak juga digunakan untuk memperbaiki fasilitas umum. Namun mengapa transportasi massal yang lebih banyak digunakan masyarakat memiliki fasilitas yang buruk. Banyaknya penumpang melebihi jatah kursi yang ada seharusnya dapat dijadikan landasan untuk menambah armada kereta atau gerbong.
Senin, 01 Maret 2010
Di Depan Mata
Saat itu aku sedang perjalanan pulang ke Surabaya menggunakan bis. Keadaan jalan sangat lancar dan terlihat beberapa kendaraan membawa muatan seperti sedang mudik. Jalan yang lancar ini membuat beberapa kendaraan dapat memacu kecepatan dengan kecepatan yang tinggi. Di pinggir jalan terlihat sebuah sungai yang cukup dalam dan berbatu seperti sebuah jurang yang menganga.
Tiba-tiba dari arah belakang bis terdengar suara klakson yang sangat keras dan terus berbunyi. Serentak bis pun menepi ke kiri untuk memberi ruang agar dapat didahului. Denga kecepatan yang sangat tinggi terlihat sebuah truk tangki pertamina melewati bis yang aku naiki. Truk tangki ini terlihat sangat aneh karena berjalan sangat cepat dan tersendat-sendat seperti hendak meng-rem. Tepat didepan dan sebelah kanan terdapat sebuah mobil berwarna hitam yang hendak melakukan hal yang sama dengan bis yang aku naiki. Tetapi jarak tidak memungkin sehingga truk tangki menabrak bagian belakang mobil dengn keras hingga mobil itu melaju tidak terarah dan menabrak sebuah pengendara motor yang berboncengan. Setelah mobil menabrak pengendara motor hingga motor dan pengendaranya terpelanting jauh, mobil itu menabrak tiang listrik hingga patah. Sementara itu truk tangki masih terus melaju dan akhirnya terperosok kedalam sungai yang dalam dan bebatu di sebelah kiri jalan dengan diikuti suara ledakan keras di bagian tangki. Semua kendaraan pun berhenti dan terjadi sebuah kemacetan. Bis ku berada tepat di depan TKP sehingga aku dapat melihat jelas keadaan waktu itu. Mobil yang tertabrak tadi telah berpindah jalur di jalur kanan dengan kondisi kaca yang pecah dan body mobil yang pesok di hampir beberapa bagian. Disebelah kiri mobil terdapat sepeda motor yang ditabraknya dan tak jauh dari situ, pengendara sepeda motor tergelatak sekarat. Pengendara motor itu terlihat sekarat dengan memuntahkan darah segar dari mulutnya. Tangannya sedikit terangkat seperti hendak meminta bantuan. Sedangkan seorang lagi tidak bergerak sama sekali di atas aspal jalan dengan posisi tertelungkup penuh darah.
Hampir selama 10 detik suasana di bis bahkan di jalanan itu menjadi hening. Tidak ada orang yang berani untuk menolong. Semua hanya terpaku melihat keadaan saat itu hingga seseorang berlari menuju pengendara motor yang sekarat tadi sambil meminta bantuan pada pengendara lain. Suasana dalam bis saat itu sangat hening dibanding saat sebelum kejadian ini terjadi. Semua tampak tegang dan beberapa diantara takut untuk melihat.
Jika mengingatnya kembali, sungguh mengerikan kejadian waktu itu.
Mitra 21 (berbaur bersama kenangan)
Pertama kali saya kesana, saya bersama dengan teman sekelas SMA saya (Dhany, Rahmat dan Rendha). Saat itu kami masih duduk di kelas 1 dan ingin refreshing bersama setelah melewati jenuhnya pelajaran sekolah. Film pertama yang saya lihat di gedung bioskop ini adalah “Mission Impossible 3”. Saat itu Mitra 21 sangat ramai oleh pelajar khususnya pelajar yang ingin menonton “HEART”, sebuah film drama cinta indonesia yang populer pada saat itu. HTM saat itu adalah Rp 15.000, dan masih tergolong murah dibandingkan dengan gedung bioskop lainnya.
Film kedua yang saya lihat digedung bioskop ini adalah “Alien vs Predator”. Berbeda dari yang pertama, saya kesana hanya dengan Rendha. Saat itu Mitra 21 tampak sepi dan kotor di beberapa sudutnya. Didalam Theater, beberapa kursi theater telah terisi sedangkan, banyak diantaranya hanyalah kursi kosong yang menatap sebuah layar besar. Suasana berbeda saat saya menonton “Harry Potter 2” dan “Spiderman 3” yang sangat populer saat itu. Meskipun kursi telah terisi penuh, pihak Mitra masih menyediakan tiket untuk duduk persis di depan layar.
Tetapi, keramaian ini semakin tahun semakin berubah menjadi sepi. Mitra 21 tampak sangat kotor dan mulai tidak diminati lagi bahkan beberapa remaja menyalahgunakan tempat ini untuk berbuat mesum. Fenomena ini mulai saya lihat saat saya menonton “Ni
ght at The Museum”. Suasana di dalam theater lebih sepi dari sebelumnya, hanya ada beberapa orang di tiap barisnya. Serentak dengan matinya lampu dan dimulai film, aktifitas ammoral turut mengiringi di baris paling pojok dan belakang. Sepasang kekasih sibuk bercumbu tanpa memperdulikan jalan cerita film yang lucu ataupun menegangkan.Di gedung bioskop ini juga, saya bertemu dengan cewek yang saya kenal melalui jejaring sosial. Cewek bertubuh mungil, imut dan lucu ini bernama Vebe, pelajar SMA Ta’miriyah Surabaya. Rencana pada waktu itu kita akan melihat “Tarix Jabrix”, berhubung film telah diputar sebelum dia datang maka, film yang kita tonton saat itu adalah “Forbidden Kingdom” yang cukup aneh, karena ternyata adalah film kera sakti. Kami menikmati jalannya cerita sambil berbincang menikmati sebuah pertemuan. Dengan ditemani makanan ringan yang aku beli, kami bertukar foto dan lebih mengenal. Mungkin ini dapat dikatakan PDKT pada saat itu. Mungkin ini merupakan pertemuan pertama sekaligus terakhirku dengannya, karena hingga cerita ini di posting, aku tidak lagi dapat bertemu dengannya tetapi,kami tetap menjaga komunikasi.
Saat-saat selanjutnya, Mitra 21 mulai nampak kebangkrutannya. Film terakhir yang aku lihat adalah “X-MEN 3”. Meskipun bukan di hari senin (senin adalah paket hemat bagi gedung bioskop), HTM pada waktu itu hanya Rp 10.000,- dan anehnya tanpa karcis dan nomor kursi. Isu pengalihan fungsi gedung pun mulai aku dengar bahwa gedung bioskop ini akan menjadi gedung kesenian. Saat menonton film, aku merasa bahwa ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku duduk menatap layar besar disini. Setelah keluar dari theater, aku mencoba mengingat semua kenangan yang terjadi di dalam gedung ini.
Betapa bergetarnya hatiku saat mendengar pemberitaan pembongkaran gedung Mitra 21 di media massa. Sebuah gedung yang memberi banyak sekali kenangan telah membaur dengan kenangan-kenangan yang diciptanya. Mungkin, alih fungsi bangunan ini memang yang terbaik bagi warga Surabaya.
Selamat tinggal Mitra 21, selamat datang gedung kesenian.....
Rabu, 03 Februari 2010
Crazy for Love

Bagaimana mestinya
Membuatmu jatuh hati kepadaku
Tlah ku tuliskan Sejuta puisi
Meyakinkanmu membalas cintaku....
(Haruskah ku mati-ada band)
Lirik lagu diatas menjadi intermeso kenangan kali ini. Kenangan ini adalah sebuah kenangan cintaku yang kesekian kalinya, yang aku alami saat aku masih duduk dibangku SMA. Cewek yang aku sukai pada saat itu adalah seorang anak cheerleader bernama Riski Amalia, yang kebetulan satu kelas denganku saat kelas 1. Awal perkenalan dimulai saat aku pindah tempat duduk tepat dibelakangnya dikarenakan bosan dengan tempat duduk yang sebelumnya. Perkenalan pertama memang tampak biasa saja, namun setelah lama aku berteman dengannya sesuatu telah berubah dari perasaanku. Perasaan ini terus berubah seiring kedekatanku padanya dan banyak waktu yang aku habiskan bersamanya mesti tidak setiap hari. Kedekatanku dimulai dari tergabungnya aku kedalam kelompok sepermainannya, dimana disitu aku mengenal Tanti, Intan, Ragil, Dhany, Bagus, Rahmat dan Rendha. Dia adalah siswi yang dapat dikatakan cukup pandai di kelas dan dia sering membantuku memahami beberapa pelajaran.
Saat itu kami juga mengambil eksul yang sama yaitu PMR sebagai ekskul kedua setelah ekskul utama kita. Mungkin karena ekskul, kita melakukan hal yang cukup bodoh. Aku menganggap ini bodoh karena saat hari minggu hampir seharian penuh kita di sekolah. Meskipun terdapat jeda waktu sekitar 5 jam antara ekskul PMR dengan ekskul utama, kita lebih memilih untuk tetap berada di sekolah hingga ekskul kita dimulai. Ekskul PMR dimulai pukul 09.00 sampai 10.30, sedangkan ekskul utama kita yang dimulai hampir bersamaan yaitu sekitar pukul 03.00. Waktu lebih dari 5 jam kita habiskan di kantin sekolah sambil berbincang-bincang dan bercanda hingga menikmati rasa kantuk dan lapar di kantin yang kebetulan saat itu selalu ramai oleh anak-anak ekskul lain dan anak-anak kelas 3 yang mengikuti tambahan pelajaran yang sedang istirahat.
Waktu-waktu inilah yang membuat aku lebih mengenal Riski dan menganggap dia adalah cewek terbaik. Riski adalah seorang cewek yang cukup cuek, ramai dan bersemangat meskipun ia telah ditinggalkan ayah tercintanya saat dia masih SMP. Dari kedekatan inilah aku baru menyadari bahwa dia adalah tetangga nenekku di trosobo. Rumahnya berada di blok N no.3 yang terletak di gang depan gang rumah nenekku di blok K. Semakin lama aku dekat dengannya, semakin besar rasa kagumku padanya. Sehingga aku berniat menyatakan cinta kepadanya suatu saat nanti. Tetapi niatan ini selalu diiringi rasa takut.
Hingga pada saat menjelang kenaikan kelas, aku beranikan hati ini untuk menyatakan cinta padanya karena mungkin di kelas 2 nanti kita tidak sekelas lagi dan akan jarang bertemu. Pengungkapan perasaanku ini ternyata tidak disambut baik dengannya karena saat itu dia lebih menyukai seseorang dari kelas lain. Kata “maaf...aku gak bisa..” membuat aku merasakan sebuah kesedihan yang cukup lama. Meskipun ia tidak dapat menerimaku sebagai kekasihnya, ia masih menerimaku sebagai teman dekatnya. Rasa tidak puas pun aku alami sehingga aku terus menunggunya hingga duduk dikelas 2 dan ia tidak lagi menjalin hubungan dengan cowok dari kelas lain itu. Saat itu aku melakukan pendekatan lagi dengannya meski kita tidak lagi sekelas. Sampai suatu hari aku mencoba menyatakan cintaku kembali kepadanya. Pengalaman pahit waktu itu tidak menyulutkan niatku untuk menyatakan rasa yang terpendamku untuknya. Kali ini ia menjawab tidak tahu dan berjanji akan menjawabnya suatu saat.
Seminggu setelah aku menyatakan cinta yang kedua kalinya kepadanya ia mengatakan “iya” kepadaku didepan kelasku yang baru. Awalnya aku bingung apa maksud kata “iya” yang ia ucapkan padaku tanpa ada penjelasan sebelumnya. Aku tidak dapat melupakan fenomena ini, senyumnya kepadaku membuat hatiku yang pernah pedih olehnya menjadi berbunga-bunga. Aku juga tidak dapat melupakan temanku Ragil yang saat itu ada disitu dan memberiku ucapan selamat kepadaku. Saat itu aku berharap hubungan ini akan indah dan berlangsung lama. Hubungan ini juga menjadi hubungan yang cukup unik, karena pada tahun itu aku dipercaya menjadi kapten basket SMA dan dia dipercaya menjadi kapten cheerleader SMA, sebuah jabatan yang cukup”wah” yang pernah kita bincangkan dikantin. Kesabaran hati inilah yang membawaku pada sebuah kebahagiaan....
Awal dari Animashi

Ini adalah kenanganku saat pertama kali aku masuk di tim basket SMA Kembang Spatu ( Kemala Bhayanghkari Surabaya 1 ) yang tidak pernah terlupakan. Saat itu aku masih duduk di kelas 1 dan aku memiliki banyak sekali impian selama aku sekolah disitu. Impian-impian itu aku susun secara bertahap mulai dari masuk kedalam ekskul basket, tergabung dalam tim utama, menjadi tim inti, menjadi kapten tim, mengikuti lomba basket, menjadi juara dan harapanku yang terbesar adalah mengikuti Deteksi Basket League ( DBL )-sebuah pertandingan basket antar SMA se-jawa timur yang paling bergengsi.
Hari minggu pukul 15.00 adalah latihan pertamaku, saat itu banyak sekali siswa-siswi yang mengikuti ekskul basket. Banyak diantara mereka adalah siswa kelas 1 dan tak jarang mereka sekelas denganku. Meskipun banyak siswa-siswi yang mengikuti ekskul pada saat itu, aku hanya melihat beberapa orang saja yang mahir dalam bermain basket. Anton, Bagus, Rio, Deril dan Yasa adalah beberapa orang tersebut. Mereka memiliki impian yang sama denganku yaitu masuk kedalam tim utama, sehingga mereka menjadi sainganku karena dari puluhan siswa-siswi yang baru tergabung dalam ekskul basket, hanya beberapa orang yang dapat masuk kedalam tim utama yang disitu masih terdapat anak kelas 2 dan 3.
Awal latihan dipegang oleh guru olahraga sekaligus penanggung jawab ekskul basket yaitu pa Putu. Dimulai dari pemanasan, latihan dasar dan game semua menampilkan performance terbaiknya karena dilihat pemain utama dan pelatih tim utama, Koba. Saat game, aku 1 tim dengan teman-teman sekelasku yaitu Anton, Bagus, Yuris dan Singgih. Sementara lawanku saat itu adalah Yasa, Deril, Rendi, Riandha dan Rio. Game pertama dengan teman-teman yang baru kenal dan memiliki impian yang sama berlangsung sangat buruk, karena tidak ada taktik maupun strategi yang disepakati bersama. Semua saling menunjukan kemampuannya sendiri-sendiri untuk dapat mencetak poin tanpa memperdulikan teman se-tim. Aku mencoba bermain sebagai tim dan tidak menarget mencetak poin, karena menurutku pemain yang baik bukan berarti dapat mencetak poin banyak melainkan dapat bermain sebagai tim. Game pertama ini memaksaku untuk mengenal tipikal teman se-tim dan lawan lebih cepat agar aku dapat bermain dengan baik dan mengetahui apa yang harus aku lakukan. Anton yang memiliki postur tinggi dan kuat di bawah ring, Bagus yang bermain santai dan safe terhadap bola, Yuris yang memiliki body kuat dan singgih yang lincah dalam mengelola bola sementara lawanku adalah Deril yang memiliki keakuratan tembakan 3 poin, Yasa yang memiliki skill rata, Rendi yang bermain kasar, Riandha yang bertipikal sama dengan Bagus dan Rio seorang playmaker yang cepat dan lincah. Setelah 10 menit game berjalan, aku berpikir yang harus aku lakukan adalah membantu Anton dalam defense dan mencari tempat yang kosong dan memberi passing matang saat offense. Alhasil, timku menang dengan skor yang cukup jauh dan aku dapat memasukan bola di garis 3 poin dan di bawah ring.
Setelah game selesai, tiba-tiba aku dipanggil oleh salah satu pemain dari tim utama, namanya Gilang. Akupun dibawa ke pos satpam yang ada disamping lapangan basket. Disitu ada beberapa pemain utama dan pelatih pemain utama. Aku sangat bingung saat Gilang berkata “Ni Ba...arek e...”, semua melihat aku dengan pandangan yang tidak enak. Akupun disalami oleh Koba pelatih utama tim basket SMA Kemala Bhayangkari 1 Surabaya dan aku dikenalkan dengan pemain-pemain tim utama yaitu Magies, Veto, Alip, Gilang, Erick dan Ardana. Dalam hati aku berpikir apakah aku akan menjadi pemain tim utama. Setelah berkenalan aku kembali ke gerombolan teman-temanku, mereka semua melihatku dan bertanya ada apa aku dipanggil, dan jawabku adalah tidak tahu karena aku memang tidak tahu maksud dari perkenalan tadi.
Setelah awal latihan yang dipegang oleh pak Putu selesai, Koba mengumpulkan semua siswa-siswi di tengah lapangan. Ia berkata segala hal tentang basket mulai dari peraturan hingga cara masuk kedalam tim utama. Setelah semua telah dijelaskan, Koba menunjuk 5 orang yang dinilai berpotensi masuk ke dalam tim utama untuk diadu dengan tim utama. Aku tahu saat itu semua berharap namanya yang dipanggil karena akupun sangat berharap namaku di panggil. Nama pertama yang dipanggil adalah.....”ADRIAN” itu adalah namaku, aku sangat terkejut dan semua orang melihatku, dengan kaki yang gemetar aku berdiri dan berjalan menuju samping Koba. Nama selanjutnya adalah “YASA”, “RIO”, “DERIL” dan “ANTON”. Setelah menunjuk 5 orang yang akan bertanding dengan tim utama, Koba memberi intruksi untuk mengeluarkan semua kemampuan yang kami punya dan bermain sebagai tim. Kamipun menyusun formasi dalam waktu yang sangat singkat, sehingga Anton menjadi center, Rio menjadi playmaker, Yasa menjadi second guard, Deril menjadi Power Forward dan aku menjadi Small Forward.
Game kedua lagi-lagi memaksaku harus mengetahui tipikal lawan sehingga aku memiliki sebuah analisa antara lain, Erick seorang center berpostur tinggi, besar, tempramental dan sangat kuat dibawah ring, Ardana adalah seorang second guard yang dapat berlari cepat dan selalu mengkomando serangan cepat, Alip adalah seorang playmaker yang sangat lincah, Gilang adalah seorang power forward yang memiliki jump power tinggi dan sentral poin bersama Erick, Veto adalah seorang yang memiliki shoot paling aneh yang pernah aku lihat dan Magies adalah seorang yang memiliki gerak tipu yang tidak disengaja-tipuannya adalah kebingungannya menari tempat kosong. Analisa kedua ini cukup lama aku dapat, hampir 15 menit game berjalan karena mereka terus menyerang pertahanan kami. Mencetak poin dalam game ini sangat alot karena tim kami yang belum kompak dan masih belum tahu banyak tentang taktik dan strategi basket, berkali-kali bola dapat direbut dan bola masuk dikeranjang kami. Game ini juga sangat melelahkan karena kami harus offense dan deffense dengan cepat, kami juga baru memainkan game pertama. Menjelang akhir pertandingan, aku berambisi untuk dapat mencetak poin. Saat Alip sedang mengontrol bola, aku jaga dia dengan ketat saat melihat ada peluang aku rebut bola dari tangannya, karena memaksa aku terjatuh bersama Alip dan untungnya bola dapat aku rebut, serentak aku men-dribble dengan cepat ke arah ring yang disana terdapat ardana. Karena lay up tidak dimungkinkan aku langsung jump stop di daerah 2 poin dan melakukan shooting, dengan keyakinan masuk. Akhirnya poin pertama untuk timku tercipta dari shootingku. Tapi, aku masih belum puas, setelah bola dapat direbut kembali, Rio memberi passing aku di daerah 2 poin dan ini adalah kedua kalinya aku harus melakukan shooting dengan keyakinan harus tercipta poin lagi, ternyata dimentahkan oleh Erick yang tiba-tiba menghampiriku dan mem-block bola dengan postur tubuhnya yang tinggi. Tenaganya yang besar menahan bola ditanganku membuat aku terjatuh dan serentak nada “OW” memenuhi lapangan. Saat itu Erick melihatku dengan wajahnya yang garang, akupun tidak dapat berkata apa-apa. Game selesai dengan skor yang sangat telak.
Aku tahu kalau game ini berjalan dengan tidak seimbang. Kekalahan tidak menjadi kekecewaan bagiku. Sebelum pulang Koba menghampiri aku dan menjabat tanganku sambil berkata “Setelah ini latihan dengan tim utama sampai jam 9, oke...”. Satu impian telah terwujud dan beberapa impian lain menunggu untuk dilaksanakan. Seiring waktu, karena aku adalah orang yang humoris dan dan memiliki tokoh idola Hisashi Mitsui-tokoh kartun Slam Dunk yang handal dalam tembakan 3 poin, aku dipanggil ANIMASHI dan memiliki 2 posisi yaitu Shooting Guard atau Small Forward karena aku memiliki tembakan yang lumayan akurat.
Selasa, 29 Desember 2009
Mata Rusak = Suntik Mati
Awalnya, aku melihat spanduk dan poster yang memberitahukan akan ada donor darah dan pemeriksaan mata gratis di kampus. Karena sudah cukup lama aku tidak memeriksakan mataku, aku tertarik untuk mengikuti acara tersebut. Didepan pintu sebuah ruang kelas secara langsung dokter perempuan bertubuh gemuk pendek dengan jubah dokter mempersilahkan aku masuk. Sebelum aku dipersilahkan duduk didepan mesin pemotret lensa mata, aku dites dengan poster huruf didinding yang jaraknya cukup jauh dan berukuran variatif dari yang berukuran besar sampai berukuran sangat kecil. Dengan tetap menggunakan kacamata yang aku pakai, dokter menutup mata kiriku
Dokter : kelihatan ?
Me : Enggak….
Secara bergantian, mata kananku ditutup
Dokter : kelihatan ?
Me : Enggak....
Dokter : ????
Mungkin dalam pikiran dokter itu “ kog gak kelihatan ??? kan udah pakai kacamata…”
Karena bingung ia mencoba sekali lagi dan hasilnya aku tetap bilang “Enggak”. Akhirnya dokter laki-laki dengan penampilan seperti orang barat dan bahasa agak ke-british-british-an yang ada diseberang menghampiriku.
Dokter British : coba lihat kacamatanya mas…
Dilihatlah kacamataku dengan seksama
Dokter British : waow….kacamatanya sudah rusak mas…tidak layak pakai…pantas anda
tidak kelihatan ( sambil menggelengkan kepalanya dan sedikit tertawa ).
Dokter british : pantas gak kelihatan…kacamata warisan nenek moyang dari jaman PKI masih dipake...parah soro….
Setelah tes awal selesai, aku dipersilahkan duduk didepan mesin pemotret mata untuk mengetahui minus secara kasar. Dan hasilnya sangat mengejutkan minusku bertambah dari L -4,15 R -4,00 menjadi L -5,45 R -4,15 dengan silinder 0,15 L dan R. kemudian aku berpikir “ wah….mataku rusak…keren…”.perasaan takut bilang ke orangtua untuk ganti kacamata dan memberitahukan kondisi mata menjadi bertambah mulai muncul dihatiku. Tidak sampai 5 menit, aku mulai melakukan tes yang ketiga, yaitu mencoba kacamata dengan lensa minus lama dan lensa minus yang baru. Dan hasilnya memang benar, minusku bertambah.
Saat mencoba lensa yang baru untuk membaca poster huruf lagi, dokter british menghampiriku lagi.
Dokter british : gimana…jelas?kamu must ganti kacamata, kacamata kamu rusak.
Me : iah…ini juga udah lama, mmm….apa minus itu bisa sembuh ya??
Dokter : enggak bisa...
( jawaban yang cukup membuatku mati sejenak )
Me : laaah....trus yang disponsor-sponsor itu gimana? Yang menyembuhkan dengan laser langsung tanpa kacamata.
Dokter British : iah.. itu benar
Me : loh tadi bilang gak bisa…
Dokter British : iah…orang tua kamu pake kacamata ya?
Me : iah…kog tauw ?!@?#?$
Dokter British : karena minus kamu lebih dari 3.5…kalo pake leise (maksud dia laser maklum British) tuw kan mata kita selaput korne dibuka dulu kemudian lensa mata kita ditipiskan sesuai dengan minus ( lah…kamu -5,45 dilaser…habis matamu…gak cembung lagi malah datar)
Me : klo minus saya turun bisa g dok??caranya gimana??
Dokter British : bisa..tapi klo sakit mata turunan gini agak sulit, masih muda memang hal yang wajar klo minus itu terus bertambah ntar klo sudah tua minus ituw turun-turun sendiri
Me : wah...ternyata wajar...bisa jadi alasan ke ortu buat beli kacamata baru nich...tapi?!?!?! lok udah tua minus turun sendiri...ganti katarak gimana...klo minum vitamin bisa g dok??
Dokter British : bisa-bisa...tapi ya ituw tadi masih muda minus masih labil kadang naik kadang turun. Memang vitamin ituw bagus...seperti eeeee...eeee...(tangannya mencoba menggambarkan sesuatu yang panjang dan mulutnya tergopoh-gopoh) carot...carot...Iu know carot...
Me : oalah.....wortel....
Dokter British : yah...ituw memang bagus buat mata tapi kalo kebanyakan kan bisa sakit liver kemudian kulit jadi pucat...jadi...eee....eee...(lagi-lagi tangannya mencoba menggambarkan sesuatu yang panjang dan mulutnya tergopoh-gopoh)
Me : wortel...(sulit banget ngomong wortel)
Dokter British : iah wortel baik juga buat dikonsumsi bukan berarti gak bisa dan gak baik buat mata.
Me : kemudia klo saya pake contact lens tuw kebaikannya apa keburukannya apa??
Dokter British : ouw...kebaikannya jarak antara mata dan lensa sangat dekat jadi jelas kemudian tidak memberatkan hidung untuk menopang gagang kacamata keburukannya harus sering dibersihkan dan harus steril karena jika kotor mata akan terjadi iritasi…untuk membersihkannya ada cairannya sendiri yang dilap dengan shhhuuuppp….shuuuppp…(tangannya menggambarkan sesuatu yang kotak dan mulutnya menyedot-nyadot)
Me : (aq berpikir ada apa dengan orang ini sambil memperhatikan gerakannya) spon???
Dokter British : aha…spon…jadi sering dibersihkan dengan spon.
Me : ooo…yaudah dok ni saya mau kuliah terimakasih infonya..
Dokter british : iah…iah… thank you…jangan lupa ganti kacamata..
Kemudian aq keluar ruangan. Jadi inilah ceritaku saat periksa mata setelah lama tidak periksa mata dan ini adalah pengalamanku yang teraneh dalam beberapa periksa mata. Kesimpulan info dari Dokter British adalah :
1.penyakit mata minus turunan ituw lebih dari minus 3
2.selama masih muda minus dapat turun dan naik (labil) dan ituw adalah hal yang wajar
3.untuk pengobatan leser, memperhitungkan daya mat dan minus
4.klo sudah tua minus akan berkurang sendiri tapi ganti katarak
5.vitamin A baik untuk mata tapi tidak selamanya bisa menyembuhkan minus
semoga ada hikmah dari pengalaman ini...